Wednesday, July 9, 2008

life philosophies.

“I often wonder if I'll ever finish all I've started, and the answer I have found is NO.
No, I will never finish all that I have started because life is about doing the process,
and not the result. Life is about doing whether you want to or not.
My life, a constant work in progress and I wouldn't have it any other way.”

- Work In Progress by Set Your Goals.

World. What about the world? Well, for one thing, there’s so much mystery in this world that all the philosophers since the time of Plato until this very time in the domain of the post-modernist, are not enough to solve and to ask question about the world. Of course I’m not talking about how the universe was formed, or how the hell that earth is round, they have all the explanations and the equations to solve that kind of problem. What I’m trying to write is about the essential part of the world. And that is LIFE. What is life? What the hell we live for? Why is this “life” thing give me some hard time? My friend, I proud to tell you that I don’t know. None of us does. All the mumbo jumbo some people tells us about the purpose of life, cause of life, is crap. Why? Because we don’t know for sure. And I will repeat this, WE DON’T KNOW FOR SURE. We all just guessing what is it with life. And just believing that what we are guessing is true.

Don’t get me wrong on this. I never stand against that kind of believe. Because I realize that if we don’t know what is wrong or right with this life – and we never will – we don’t have that much chance to survive and to live this life without regret or with minimum regret. And this is the time where some guessing will help us get through with life. How on earth does guessing can be effective to help us maintain our identity in this world where the power of trends, globalization, and money controls and suppress our ability to develop our own identity? Also, how does guessing can help us make life to bring out the best in us instead bringing out the worse in us?

Well, my answer has already been written. Just believe that what we are guessing is true. Guessing about what is it with life, and guess what is the answer to all those problems. In short, a life philosophy, a life motivation, a motto, call it what you want. And yeah, you could also call it religion, although – in my opinion – there are some rules if you want to call it a religion and I won’t write those rules here. With those in mind (life philosophy, a life motivation, a motto) I’m sure that you can cruise this life and call it, a one hell of a ride. Why? Because with a life philosophy written hard at the back of your head, you have the edge to push through your barrier when things get hard and you need something extra to overcome it. Those life philosophy is your something extra. And if you are saying “Guessing is not enough for me, I need those certainty so that I can push through my life knowing what I believe is true.” Well dude, too bad there’s no such thing in this world – well except for math, and math suck. That’s why I wrote, believe what we guessing is true. Because this is the important part of life philosophies, trust. And believe me my friend, you will trust it if you learn and got your life philosophies through your own experience of living life and not from your parents, or some random guy/girl who acknowledge themselves as a moral teacher. Remember, YOU ARE THE ONE WHO LIVE YOUR LIFE, NOT EVERYONE ELSE. Yes, we can learn from other people and we have to. But in the end, it is you who will make the decisions, so learn a lot and experience a lot. Don’t let an institution tell you what to do. God already gives us a reason to think, what is bad and what is right, and life is where we can use it to the maximum. I know that probably you guys thinks that I tick off religion in some way, well, damn right I did. But once again I proclaim that I never stand against it. I just want to emphasize what is it means to discover it by yourself and not someone discover it for you. By discovering what is your life philosophies by yourself, you have the belief that can push you through all kinds of personal wall because you already been there done that and have the proof that it worked. Well, if you discover it and it is in synonyms with your embed life philosophies, than that it is fine, it will doubles your trust. If you find your life philosophies in a bumper sticker or in a lyric of a song – just like me – that is also fine. In my opinion we don’t have to have a popular religious institution or a holy book to have a satisfaction guarantee life philosophies, motto, or whatever it is.

As for me, just like I told you, got mine from a lyric of a song. Well, I guess I already think that life is like that, but don’t have the words to express it, so when these guys from Set Your Goals came up with this song, you just have those feeling that everything is in place. My friends, no matter how simple it is, for me, the world, this life, is a WORK IN PROGRESS.

all of it above is all my opinion.
comment freely.


oh yeah, mind my grammar. ehehehe it's 7 in the morning and i'm getting ready to make a surprise for my girlfriend. OH YEAH. ehehehe

Wednesday, May 28, 2008


Indonesia, merupakan sebuah negara beragama yang mengharuskan rakyatnya untuk mempunyai dan mempercayai satu agama untuk dianut. Negara ini hanya mengenal lima jenis agama dan satu agama kepercayaan – walaupun sudah diakui secara resmi, namun agama kepercayaan ini masih mengundang perdebatan – yang resmi digunakan. Agama-agama yang diakui ini terdiri dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu sebagai agama kepercayaan. Walaupun begitu, tanpa diketahui ataupun tersebar luas beberapa warga negara menolak untuk mempercayai kelima agama formal karena berbagai alasan. Beberapa individu ataupun kelompok ini memilih untuk hidup dengan mempercayai agama maupun kepercayaan lain yang tidak resmi dikenal di negara ini tetapi benar menurut akal sehat mereka. Diantara mereka ada yang memilih untuk tidak memikirkan masalah kepercayaan ini atau biasa disebut Agnostik, ada juga yang percaya bahwa tuhan itu tidak ada atau sudah mati yang biasa disebut sebagai Atheist, ada beberapa yang lebih memilih untuk percaya kepada agama nenek moyangnya, dan bermacam-macam jenis kepercayaan lainnya baik yang mistik maupun yang berdasarkan akal.

Diantara banyak sekali kepercayaan ini, ada satu kepercayaan berdasarkan akal sehat yang berbeda dari kepercayaan-kepercayaan lain. Jika kebanyakan kepercayaan ini memfokuskan pemikirannya pada konsep tuhan, maka Deisme memfokuskan pemikirannya tidak hanya kepada konsep tuhan tetapi juga menyentuh konsep agama dengan mendasarkan pemikiran mengenai akal sehat, alam semesta dan eksistensi manusia di dunia. Dengan begitu, seorang Deist – sebutan untuk orang yang menganut kepercayaan ini – akan menggunakan akal sehat dan hukum alam serta pengalamannya di dunia untuk mengintepretasikan konsep tuhan dan agama yang akan dipercayainya.

Walaupun Deisme ini merupakan kepercayaan yang bersifat religius, mereka tidak membentuk suatu komunitas resmi yang mempunyai wewenang terhadap kepercayaan ini seperti sekte-sekte agama lain yang kebanyakan berdasarkan pada hal mistis. Para Deist ini biasanya mempunyai interpretasi yang berbeda-beda walaupun masih dalam kerangka Deisme, hal ini disebabkan oleh akal yang menjadi dasar dari pemikiran ini. Dengan demikian, suatu komunitas yang mengatur tidak diperlukan oleh para Deist ini karena secara singkat dapat dikatakan bahwa mereka adalah nabi bagi diri mereka sendiri.

A. Pengertian dan Pemikiran Deisme

Secara bahasa, Deisme berasal dari kata latin Deus yang berarti tuhan[1]. Kata ini dipakai untuk membedakan ajaran ini dengan ajaran lain yang memakai kata Theos yang juga berarti tuhan[2]. Perbedaan antara Theisme dan Deisme ini terletak pada pandangannya mengenai tuhan dan agama. Deisme adalah kepercayaan religius yang mempercayai tuhan berdasarkan pada fondasi akal, hukum alam dan pengalaman pribadi dengan memfokuskan pemikirannya pada kebebasan berpikir daripada melalui kitab suci ataupun wahyu-wahyu yang dikatakan datang dari utusan tuhan[3]. Dengan begitu secara singkat seorang Deist akan mengandalkan akal sehatnya untuk mempercayai tuhan daripada mempercayai suatu agama yang mengatakan bahwa tuhan itu ada.

Perbedaan lain dengan kepercayaan maupun pemikiran lain yang menonjol adalah kepercayaan bahwa setelah tuhan selesai menciptakan dunia ini dan memberikan hukum alam sebagai nyawa dari dunia, tuhan beristirahat dan hanya melihat dari jauh bagaimana dunia dan manusia di dalamnya hidup. Hal ini sudah tentu sangat bertentangan dengan kebanyakan kepercayaan formal yang dikenal seperti Islam dan Kristen yang mempercayai bahwa tuhan sudah mengatur segala sesuatu yang akan terjadi di dunia ini seperti takdir. Dengan mempercayai hal ini, seorang Deist akan hidup secara sejati dengan memaksimalkan potensinya sebagai manusia tanpa mengandalkan tuhan ataupun hal mistik lainnya untuk membantunya.

Selain menggunakan kepercayaan untuk hal-hal religius dan spiritual seperti hubungan dengan tuhan, Deist juga menggunakan kepercayaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan akal mereka untuk kehidupan personal, sosial, maupun untuk mengintepretasikan moral, mereka akan lebih mengerti apa makna sebenarnya dari hidup dibandingkan dengan mereka hidup dengan mengandalkan suatu sistem kepercayaan yang terpadu tanpa menggunakan secara maksimal potensi akal mereka. Karena hal ini pula, Deisme sangat menjunjung tinggi asas kebebasan berpikir dan kebebasan untuk berpendapat yang dengan begitu membuat para Deist menjadi orang yang sangat terbuka dan menghormati perbedaan, walaupun perbedaan itu menyangkut interpretasi mengenai kepercayaan itu sendiri yang bagi beberapa agama sangat tabu dan terlarang.

Karena hal inilah, sangat memungkinkan satu Deist akan berbeda dari Deist yang lainnya yang disebabkan oleh perbedaan interpretasi. Walaupun begitu, garis besar dari Deisme, seperti penolakan terhadap agama yang berdasarkan pada teks-teks suci dan wahyu-wahyu, dan anggapan bahwa akal adalah instrumen penting untuk mencapai kebenaran religius tetap diterima secara luas sebagai dasar dari ajaran Deisme itu sendiri. Contoh dari beberapa perbedaan diantara para penganut Deisme ini adalah dalam hal berdoa. Sebagian besar Diest menolak suatu bentuk doa dikarenakan mereka beranggapan bahwa tuhan tidak akan membantu mereka walaupun mereka berdoa sekeras apapun dan doa bukanlah jalan untuk berhubungan dengan tuhan, berdoa hanyalah suatu bentuk pelarian diri karena tidak bisa mencapai sesuatu dengan usaha[4]. Walaupun begitu, sebagian kecil lainnya tetap melakukan aktivitas berdoa ini namun bukan karena mereka ingin meminta bantuan ataupun meminta hal lainnya, mereka beranggapan bahwa berdoa adalah suatu bentuk meditasi untuk membersihkan pikiran dan untuk berterimakasih terhadap tuhan atas kehidupan yang sudah diberikan dan bukan untuk meminta sesuatu ataupun meminta bantuan tuhan dalam suatu hal seperti yang umum dilakukan oleh pemeluk agama monotheis lain.

Jika kebanyakan agama sudah menentukan tujuan hidup masing-masing pemeluknya sejak dia lahir maka Deisme menolak pandangan seperti itu. Secara umum, Deist percaya bahwa tuhan tidak menentukan tujuan hidup yang pasti bagi para ciptaannya, tuhan membiarkan manusia untuk meccari sendiri tujuan dan posisinya di dunia yang dengan begitu manusia akan dapat hidup semaksimal mungkin di dunia ini tanpa merasa bahwa tujuan hidup dan akhir jalan hidup mereka sudah ditentukan dan membuat mereka tereduksi kemanusiaannya[5].

Seperti yang sudah dibahas bahwa Desime mempunyai beberapa garis besar yang dianut oleh para Deist. Secara lebih jauh, garis besar dari Deisme ini terbagi menjadi dua. Yaitu aspek kritis dan aspek konstruktif[6].

1. Aspek Kritis

· Penolakan terhadap agama yang menggunakan teks suci sebagai sumber ajarannya.

· Penolakan terhadap keajaiban seperti wahyu-wahyu dan hal-hal mistis.

· Penolakan terhadap konsep tujuan hidup yang diatur.

2. Aspek Konstruktif

· Tuhan itu ada dan dia menciptakan alam semesta

· Tuhan menginginkan manusia untuk mempunyai moral

B. Sejarah Deisme[7]

Pemikiran deistik ini sudah mulai berkembang sejak zaman yunani kuno dimana seorang pemikir yunani bernama Heraclitus (540-480 SM) yang beranggapan bahwa adanya akal universal yang menuntun segala sesuatu yang terjadi di alam dan ada satu entitas yang menjadi sumber dari segala sesuatu, dinamakannya tuhan atau logos yang berarti akal. Disini terlihat bahwa Heraclitus menganggap bahwa akallah yang akan menuntun kita dalam alam. Walaupun pemikiran Heraclitus sama sekali tidak meperlihatkan konsep Deisme namun akal yang menjadi dasar dari Deisme sudah terpikirkan olehnya.

Deisme seperti yang telah dijelaskan, mulai muncul pada zaman pencerahan abad ke-17 di Inggris yang dimaksudkan untuk menyebut suatu gerakan yang menginginkan agama menjadi lebih alamiah atau yang disebut sebagai agama alamiah. Tidak diragukan lagi, agama alamiah yang mendasarkan kepercayaannya pada tuhan melalui alam adalah nenek moyang dari Deisme. Agama alamiah ini muncul setelah tradisi Humanisme berkembang pada zaman Renaissance dan membukakan pintu kepada permulaan kritik terhadap teks suci yang tadinya sangatlah sakral.

Selain tradisi Humanisme, kelahiran Deisme sebagai satu pemikiran tak lepas dari penemuan kembali keberagaman di eropa setelah gereja menguasai dan mendominasi peradaban di eropa selama berabad-abad. Keberagaman ini memunculkan suatu perasaan dan pandangan bahwa Kristen bukanlah satu-satunya agama yang eksis dan bukan pula suatu agama yang paling benar adanya. Karena pandangan radikal inilah pemikiran-pemikiran lain yang lebih radikal dapat muncul dan berkembang luas setelah zaman Renaisans.

Setelah beberapa pemikiran radikal bermunculan di tanah eropa, banyak yang menginginkan untuk terjadi adanya perubahan yang mendasar pada kebudayaan eropa yang masih dikuasai gereja. Karena itulah setelah renaisans terjadi, banyak peperangan terjadi di eropa entah untuk mempertahankan suatu status-quo atau untuk membebaskan diri dari kekangan pemikiran lama. Dalam banyak peperangan ini, kekerasan terjadi terhadap para pemeluk sekte-sekte agama dan mereka memutuskan untuk mencari sebuah agama yang berdasarkan pada alam yang dapat ditangkap secara universal karena dianggap sudah ditulis dalam buku alam atau ditulis oleh tuhan didalam pikiran manusia yang terdalam. Dengan interpretasi yang universal maka setiap pemeluk agama akan bebas menentukan pemikiran mereka tentang tuhan dan dunia dan dianggap akan memberikan perdamaian.

Setelah zaman Renaisans berlalu, muncul gerakan baru yang bernama aufklarung pada abad ke-18. Nama tersebut duberikan karena manusia mencari cahaya baru dalam rasionya pada zaman ini. Di zaman ini, manusia mulai menggunakan rasionya untuk mencari sebuah pebcerahan bagi pemikirannya, yang oleh Immanuel Kant disebut sebagai zaman dimana manusia keluar dari keadaan tidak akil balig menjadi seorang manusia dewasa. Pemikiran yang berkembang pada zaman ini berpusat Inggris karena suasana politik yang mengizinkan. Salah satu gejala Aufklarung di Inggris adalah pemikiran yang dikenal dengan nama Deisme[8].

Deisme ini muncul di Inggris dengan mudah karena waktu penjelasan mekanistis tentang dunia sangat dipuja-puja. Anggapan yang timbul bahwa dunia seluruhnya diciptakan menurut hukum-hukum mekanistis yang ketat, namun sesudah diciptakan mesih-dunia berjalan dengan sendirinya. Dengan itu mereka mengingkari segala hal yang adikodrati, seperti mukjizat dan wahyu. Isi ajaran Kristianisme bersifat kodrati melulu, akibatnya kristianisme merupakan suatu agama irasional yang tidak membawa sesuatu pun yang baru. Buku-buku yang terbit pada zaman ini di Inggris sangat menggambarkan suasana pemikiran yang ada. John Toland mengarang buku yang berjudul Cristianity not Mysterious (1696) Matthews Tindal menerbitkan Cristianity as Old as Creation (1730)[9].

Selain perkembangan yang pesat dalam bidang pemikiran, bidang teknologi eropa juga ikut mengalami perkembangan yang signifikan. Dalam beberapa kasus bahkan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan mmpunyai peran yang signifikan dalam menghancurkan domonasi dogma-dogma gereja. Hasil kerja Copernicus, Galileo Galilei yang membuktikan bahwa bumi itu bulat dan bukanlah pusat dari alam semesta membuat gereja kehilangan kekuasaan atas ilmu pengetahuan. Penemuan hukum gravitasi oleh Isaac Newton yang membuktikan bahwa alam semesta digerakkan oleh hukum alam menjadi dasar dari berkembangnya pemikiran Deisme. Penemuan Newton tersebut menjelaskan bahwa tuhan menciptakan alam semesta, menggerkkannya dengan hukum alam dan pension dari pekerjaannya untuk melihat bagaimana manusia hidup. Karena penemuan ini pula kepercayaan terhadap keajaiban dan teks-teks suci mngenai alam sedikit demi sedikit mulai luntur. Dengan begitu, dalam abad rasionalitas inilah pemikiran Deisme lahir.

C. Deisme Dewasa Ini

Dalam perjalanannya menuju abad ke-21. Deisme telah banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran modern yang membentuk dunia kita seperti sekarang ini. Sebagai contoh, tanpa Deisme, Sekularisme di Amerika tidak akan muncul. Bahkan beberapa sumber mengatakan bahwa, Declaration of Indepence sedikit banyak dipengaruhi oleh pemikiran Deisme ini. Hal itu terjadi disebabkan adanya kemungkinan bahwa beberapa founding fathers Amerika adalah seorang Deist. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat sebagian besar orang Amerika adalah keturunan Inggris yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Deisme ketika itu[10].

Walaupun istilah Deisme ini tidak banyak dikenal orang - yang disebabkan oleh tidak adanya komunitas besar yang menaungi perkembangan kepercayaan ini[11] – namun tanpa disadari pemikiran dasar dari kepercayaan ini yaitu kepercayaan berbasis akal sangatlah populer dan dianut di abad-21 ini yang dapat dikatakan sudah memasuki zaman post-modern. Banyak orang yang walaupun mempunyai satu agama resmi dia tetap meragukan ajaran dari agama tersebut dan tanpa disadari dia sudah mulai menjadi agnostik dan beberapa menjadi atheist serta deist jika mau mencoba untuk memikirkannya.

Hal ini mungkin terjadi karena perkembangan kehidupan beragama yang sudah mulai kehilangan arah dan cita-cita awalnya. Ketika seseorang terombang-ambing di antara satu kepercayaan dengan kepercayaan lainnya maka yang akan terjadi adalah kebingungan yang mengarah pada pengrusakan diri ataupun alienasi diri. Sebagai contoh seseorang yang beragama islam namun tidak sanggup menunaikan ajaran agamanya dan termakan oleh pengaruh globalisasi namun tidak mengerti bagaimana mengendalikannya karena sepanjang hidupnya dia tidak pernah mengendalikan dirinya maka dia akan menjadi korban dari dilema pemikiran ini. Orang itu tanpa sadar akan terus menunaikan ajaran agamanya dan bersikap seolah-olah dia takut kepada tuhan namun pengaruh globalisasi dan budaya terus menerus menjauhkannya dari apa yang dipercayainya sebagai tuhan dan secara otomatis, dia telah teralienasi dari dirinya sendiri.

Kehidupan beragama dewasa ini juga mempengaruhi ketidaksadaran spiritual ini. Bentuk terorisme ataupun premanisme yang terjadi dengan membawa nama satu agama membentuk suatu opini publik secara tidak sadar akan kekecewaan terhadap agamanya. Karena itu, secara tidak sadar pula individu-individu beragama ini sedikit demi sedikit meninggalkan identitasnya sebagai makhluk yang beragama dan terombang-ambing diantara kebimbangan tidak tahu mana yang benar mana yang salah dan mana yang harus diikuti dan tidak tahu harus berbuat apa karena sudah terbiasa oleh dogma-dogma yang menyejukkan dari agamanya.

Dengan begitu, Deisme dewasa ini tetap berkembang sebagai kepercayaan personal yang tidak memerlukan suatu komunitas untuk menaungi perkembangannya dan membuat suatu peraturan baku mengenai agama. Bahkan tanpa disadari pemikiran ini sudah masuk dalam banyak aspek kehidupan manusia modern walaupun penolakan yang terjadi akibat kebingungan membuat Deisme masih terlihat seperti ajaran sesat bagi beberapa agama.

Daftar Pustaka

Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta:Penerbit Kanisius,1975.

Gaarder, Jostein. Dunia Sophie. Bandung:Penerbit Mizan,1996.

Wikipedia, Deism., 23 Mei 2007 Pukul 19.00 – 22.00

Hardwick, J. Deism Defined., 23 Mei 2007, Pukul 20.15

World Union of Deist. Deism., 23 Mei 2007, Pukul 19.03

[1] Diakses pada hari Rabu tanggal 23 Mei 2007 Pukul 18.23

[2] Diakses pada hari Rabu tanggal 23 Mei 2007 Pukul 18.35

[3] Diakses pada hari Rabu tanggal 23 Mei 2007 Pukul 19.03

[4] Diakses pada hari Rabu tanggal 23 Mei 2007 Pukul 19.43

[5] Diakses pada hari Rabu tanggal 23 Mei 2007 Pukul 20.15

[6] Diakses pada hari Rabu tanggal 23 Mei 2007 Pukul 21.54

[7] Diakses pada hari Rabu tanggal 23 Mei 2007 Pukul 21.24

[8] Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. (Yogyakarta, Penerbit Kanisius:1975) Hal. 53

[9] Ibid, Hal. 54

[10] Diakses pada hari Rabu tanggal 23 Mei 2007 Pukul 19.17

[11] Pada tahun 1993, seorang bernama Robert. L. Johnson mendirikan satu perkumpulan deist yang bernama World Union of Deist yang berperan sebagai penghubung semua deist yang ada di dunia. Perkumpulan ini mempunyai semoboyan ”god gave us reason, not religion” yang berarti “tuhan memberikan kita akal, bukan agama”

Pandangan Kesetaraan Jender Nurcholish Madjid*

Menurut Siti Musdah Mulia** sangat sulit untuk menemukan tulisan Caknur yang mnyebutkan secara eksplisit soal kesetaraan jender. Namun dari berbagai ide dan pandangannya, nilai-nilai kesetaraan jender begitu terbaca seperti dalam pandangan Cak Nur yang meliputi persamaan manusia, institusi perkawinan dan nilai-nilai yang dianut dalam jilbab dan hijab. Dari ketiga gagasan Cak Nur ini sudah terlihat bahwa kesetaraan jender adalah salah satu dari bahan pemikiran Cak Nur.

Gagasan Mengenai Persamaan Manusia

Gagasan kesetaraan jender Cak Nur mula-mula ditunjukkan melalui ide persamaan antar sesama manusia yang disebut Cak Nur bersumber melalui tauhid dan memiliki efek pembebasan diri (self-liberation) serta pembebasan sosial. Berdasarkan prinsip ini, maka tauhid menghendaki sistem kemasyarakatan yang demokratis berdasarkan musyawarah, dan tidak membenarkan adanya absololutisme di antara sesama manusia.

Cak Nur sangat konsisten pada gagasannya tentang al-musawah atau persamaan di antara manusia, terutama dalam konteks perwujudan demokrasi dan penegakan masyarakat madani. Menurutnya, semua manusia tanpa memandang jenis kelamin, kebangsaan atau kesukuannya dan lain-lain, adalah sama dalam harkat dan martabat. Melalui pandangan ini, sudah jelas terlihat bahwa pandangan Cak Nur mengenai persamaan manusia secara langsung akan mengarah juga kedalam gagasan persamaan jender sebab gagasan persamaan manusia akan berarti bahwa semua manusia adalah sama dan tidak ada perbedaan yang berarti dalam pria dan wanita. Lebih dalam lagi Cak nur mengatakan bahwa satu-satunya aspek yang membedakan manusia dengan manusia lainnya adalah tingkat ketakwaannya. Siti Musdah Mulia menambahkannya dengan menyimpulkan bahwa jika Cak Nur berbicara mengenai penegakan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pastilah harus dimaknai bahwa tidak ada demokrasi tanpa keikutsertaan perempuan, karena masyarakat selalu terdiri dari lelaki dan perempuan.

Pandangan Tentang Institusi Perkawinan

Disini Cak Jur disebut tertarik mangulas soal insitusi perkawinan disebabkan oleh menurutnya bicara soal perkawinan berate bicara soal hukum keluarga. Pandangan Cak Nur yang paling terkenal dalam kaitannya dengan institusi perkawinan adalah kesimpulannya yang mengatakan bahwa amat dimungkinkan perempuan muslimah boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara kebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.

Hal ini, menurut Cak Nur merujuk pada semangat yang dibawa Al-Quran sendiri yaitu pluralitas agama yang merupakan sunnatullah dan bahwa tujuan hakiki pernikahan adalah untuk merekatkan tali kasih dan tali sayang yang oleh karena itu di tengah rentannya hubungan antar penganut agama, pernikahan berbeda agama justru dapat dijadikan wahana untuk membangun toleransi dan kesepahaman antar masing-masing pemeluk agama. Selain dari alasan ini, Cak Nur juga mengemukakan bahwa sementara tidak ada teks suci yang memperbolehkan pernikahan antar agama tidak ada juga teks suci yang melarang pernikahan berbeda agama. Terlihat dari alasan-alasan yang dikemukakan oleh Cak Nur pengaruh pandangannya dalam persamaan manusia yang secara langsung terkait dengan persamaan jender.

Pandangan Tentang Jilbab dan Hijab

Meengenai permasalah pemakaian Jilbab pada wanita, Cak Nur sampai pada kesimpulan bahwa jilbab lebih bernuansa ketentuan budaya ketimbang ajaran agama. Selengkapnya beliau menuliskan, “Jika jiibab memang ditetapkan untuk perlindungan, atau lebih jauh lagi untuk meningkatkan prestise kaum perempuan yang berpengaruh, atau kaum perempuan dari kalangan atas atau kelompok elit, maka dengan demikian dapatlah dianggap bahwa jilbab dan hijab merupakan sesuatu yang lebih bersifat dan bernuansa budaya dibandingkan bersifat religi”.

Dengan pandangan itu Cak Nur sampai pada kesimpulan bahwa jilbab dan hijab bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan Islam hanya sebagai perlindungan terhadap perempuan. Jika perlindungan itu tidak dibutuhkan lagi tentu perempuan dapat memilih secara cerdas dan bebas apakah ia masih mau menggunakan jilbab dan hijab atau tidak. Cak Nur juga menambahkan bahwa dalam realitas sosiologis di masyarakat, jilbab tidak menyimbolkan apa-apa; tidak menjadi jaminan kesalehan dan ketakwaan, tidak ada jeminan bahwa pemakai jilbab adalah perempuan salehah sebaliknya perempuan yang tidak memakai jilbab bukan perempuan shalehah. Masih banyak perempuan yang tidak memakai jilbab jauh lebih baik kualitas kemanusiaannya dibandingkan dengan perempuan pemakai jilbab karena jilbab tidak identik dengan kesalehan dan ketakwaan seseorang yang sayangnya menurut pendapat umum jilbab adalah bukti keshalehan.


Dari ketiga gagasan dan pemikiran Cak Nur tersebut terlihat bahwa Cak Nur sangatlah memperhatikan kesetaraan jender sehingga oleh Siti Musdah Mulia, Cak Nur disebut sebagai seorang yang mempunyai sensivitas jender yang kuat. Namun sepertinya sebutan itu terlalu sempit bila diberikan kepada Cak Nur, sebab latar belakang dari ketiga gagasan dan pemikiran Cak Nur tersebut terlalu luas jika hanya dikaitkan pada sensivitas jender. Lebih tepat apabila Cak Nur disebut mempunyai sensivitas luar biasa terhadap kemanusiaan dan otomatis mendukung persamaan manusia seperti yang sudah disebut di halaman pertama dari tulisan ini. Dengan begitu, sensivitas terhadap jender yang disebut oleh Siti Musdah Mulia hanyalah sebuah riak kecil didalam pemikiran kemanusiaan Cak Nur yang luas.

Satu bab dalam buku ”Menembus Batas Tradisi: Menuju Masa Depan yang Membebaskan” yang disampaikan oleh Siti Musdah Mulia pada Simposium Pemikiran Cak Nur dalam rangka Dies Natalis Universitas Paramadina ke-VII, tanggal 17-19 Maret 2005 di Jakarta.
Sekjen Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

ini salah satu paper tugas gua yang gua pikir bagus juga kalo ada yang baca. ehehehe

Toilet Pria Gedung Sembilan Lantai Satu Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Banyak sekali hal sepele di dunia ini yang tidak begitu dianggap penting oleh banyak orang namun ternyata pada kenyataannya hal-hal sepele itulah yang banyak berpengaruh kepada kehidupan kita. Tempat umum yang sudah pasti tidak asing lagi bagi kita namun keberadaannya selalu saja dikonotasikan dengan hal-hal negatif seperti bau, jorok, dan berbagai sebutan negatif inilah yang menjadi contoh nyata bagaimana suatu hal yang sepele di dunia bisa menjadi penting bagi kehidupan kita. Toilet, begitu banyak orang menyebut tempat umum ini. Namun, toilet pria di gedung sembilan yang terdapat pada lantai satu menjadi salah satu toilet yang paling menonjol dibanding toilet-toilet lainnya di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya ini.

Mengapa toilet di gedung sembilan ini begitu menonjol? Mungkin jawabannya ada pada faktor letak yang strategis dari toilet ini. Selain gedung sembilan memang dikenal sebagai pusat kegiatan mahasiswa FIB sehingga banyak mahasiswa yang berkeliaran disana, gedung sembilan juga merupakan pintu masuk FIB bagi para mahasiswa yang membawa mobil sehingga otomatis toilet pertama yang mereka jumpai adalah toilet gedung sembilan yang terletak di lantai satu. Hal lain yang juga salah satu ciri khas tempat ini adalah banyaknya mahasiswa pria yang merias diri di tempat ini. Selain membenarkan tata rambut dengan gel-gel khusus, banyak pula yang mencuci mukanya di toilet ini. Suatu pemandangan yang jarang terjadi di toilet gedung manapun dan lantai manapun. Ruangan yang berukuran sekitar 5x3 meter dan mempunyai 3 bilik kloset ini menjadi favorit pria untuk merias diri dikarenakan cukup besarnya ruangan, lampu yang menyala terang benderang serta kaca yang besarnya lebih dari cukup. Walaupun begitu, toilet ini cukup unik karena tidak seperti toilet biasanya yang mempunyai kloset berdiri, toilet ini tidak mempunyainya. Selain dari pada itu, barang-barang yang biasa tersedia di toilet seperti ember dan ciduk dapat ditemukan.

Toilet pria di gedung sembilan lantai satu ini hanyalah contoh dari banyaknya toilet di lingkungan FIB, namun karena beberapa faktor seperti letak, bentuk ruangan dan berbagai hal pendukung lainnyan menjadikan toilet ini banyak digunakan untuk aktifitas selain dari aktifitas pokok yang biasa dilakukan di toilet yang secara tidak sadar telah membantu kita untuk belajar dengan tenang tanpa harus kuatir menahan-nahan untuk pergi ke belakang.

Singing in The Basement : Underground Music Movement as A Sub-Multiculturalism Society

Multi-culture defined as a transformation of one culture into another through a blending process of two or more culture, are the basis of our modern society. This modern society has created a new culture that blends all our differences in one main purpose to unite us through one final goal. A goal that can be different for each society, it can be a massive goal such as to become a nation or a less big goal like to unite through the same taste or vision in art, sport and even lifestyle.

For example, the underground music movement is a community that primary unite through their same taste and vision for music. This community emerges from the midst of a multicultural society that already has no more room for expression because they already have their form of music expression in mainstream music culture. Yes, multicultural society has somewhat produce a new culture to unite everyone in their multicultural society. And the underground music movement release themselves from the mainstream vision to build and live their own vision of music. So it can be concluded that a sub-multi-culture society can rise from the main multi-culture society that said can accommodate all culture.

This phenomenon happen because in a multicultural society where almost every person is the same as the other, some rebel needs an identity to define them in the mass produced culture of multiculturalism. And this is where the underground music movement gives their “followers” an identity, an ideology, and even a life. And of course it is the youth – or at least the soul of the youth – that leads this movement of freedom.


Wednesday, April 30, 2008


i'm a person just like you
but i've got better things to do
then sit around and fuck my head
hang out with the living dead
snort white shit up my nose
pass out at the shows
i don't even think about speed
thats something i just don't need

i've got the straight edge

(Minor Threat – Straight Edge)

Pada musim panas tahun 1981, lirik yang berbicara mengenai penolakan terhadap obat-obatan dan minuman keras tersebut berkumandang di banyak kafe-kafe lokal di Washington DC. Minor Threat, band Hardcore Punk yang menulis lagu tersebut, secara tidak sadar – bahkan Ian MacKaye yang menulis lirik tersebut tidak bermaksud menjadikan Straight Edge sebagai pergerakan - telah memulai sebuah pergerakan dan sebuah gaya hidup baru di dalam komunitas Punk Rock yang kala itu dikuasai oleh alkohol dan obat-obatan. Sesuai dengan isi dari lirik yang menolak alkohol dan obat-obatan terlarang, pergerakan dan gaya hidup baru ini secara umum menekankan penolakan terhadap penggunaan zat adiktif tersebut bagi para penganutnya dan mengkampanyekan hidup sehat. Pergerakan atau movement ini dikenal dengan nama Straight Edge – yang biasa dituliskan dengan sXe atau xXx - sesuai dengan judul lagu tersebut.

Para penganut gaya hidup ini mempunyai semacam simbol yang merupakan identitas mereka diantara banyak orang didalam komunitas Punk itu sendiri. Simbol yang paling dikenal diantaranya adalah huruf “X” besar dan “xXx”. Simbol ini biasanya dituliskan atau bahkan di tato pada bagian punggung tangan walaupun banyak juga yang menuliskannya atau mentatonya di bagian tubuh lain. Tanda “X” besar ini lahir dari ketidaksengajaan, dimana pada saat band Teen Idles – yang merupakan cikal bakal Minor Threat – akan melakukan pertunjukan di sebuah klub mereka tidak dapat masuk ke klub tersebut dikarenakan semua anggotanya belum memenuhi syarat umur minimal untuk mengkonsumsi alkohol. Akhirnya agar Teen Idles dapat tetap bermain, manajer klub tersebut menandai punggung tangan mereka dengan tanda “X” besar agar para bartender tidak memberikan minuman beralkohol pada mereka. Setelah kejadian ini, banyak klub-klub yang mengadopsi peraturan tersebut agar anak-anak dibawah umur dapat tetap masuk dan menonton pertunjukan tanpa harus melanggar batas umur konsumsi alkohol. Karena itulah kemudian tanda ”X” besar di punggung tangan ini menjadi sinonim dengan gaya hidup Straight Edge.

Secara pemikiran, para penganut Straight Edge – selanjutnya akan disebut sXe - berpedoman pada sebuah lirik lagu yang juga ditulis oleh Minor Threat pada tahun 1982 yang berjudul Out Of Step.

Don't smoke
Don't Drink
Don't Fuck
At least I can fucking think

I can't keep up
Can't keep up
Can't keep up
Out of Step with the world

(Minor Threat – Out Of Step)

Dari lirik diatas dapat terlihat bahwa para sXe mempunyai tiga pantangan yang menjadi dasar dari gaya hidup ini. Tiga pantangan tersebut adalah Don’t Smoke, Don’t Drink, Don’t Fuck. Dari lirik ini, banyak sekali intepretasi-intepretasi yang dilakukan oleh para penganut sXe dalam menjalankan kehidupannya sebagai seorang sXe. Sebagai contoh, banyak yang menganggap bahwa kata-kata Don’t Fuck mengacu pada pantangan dan penolakan terhadap sex sebelum menikah. Namun banyak juga yang menganggap bahwa kata-kata itu hanya mengacu pada praktek sex bebas yang dengan demikian menyuarakan pesan untuk setia terhadap pasangannya, baik sudah menikah ataupun tidak. Dalam level yang lebih ekstrim, ada beberapa sXe yang menganggap bahwa semua yang berhubungan dengan sex adalah pantangan, bahkan masturbasi juga merupakan pantangan. Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Don’t Fuck bukanlah berarti sex secara harafiah, namun lebih kepada Fuck = Screw Up atau bertindak bodoh/mengacau.

Selain masalah interpretasi lirik Don’t Fuck, beberapa sXe membawa gaya hidup dan filosofi-nya ke level yang lebih tinggi yaitu dengan menjadi seorang Vegetarian – seorang yang tidak memakan daging – dan bahkan menjadi Vegan – seseorang yang tidak memakan daging maupun hasil lain dari binatang seperti telur, susu dan keju. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa sXe membawa misi untuk hidup sehat yang kemudian Vegan maupun Vegetarian dianggap masuk kedalam misi hidup sehat tersebut. Meskipun demikian, secara umum seorang sXe yang “hanya” tidak mengkonsumsi alkohol ataupun obat-obat terlarang akan tetap diakui sebagai seorang Straight Edge.

Keputusan untuk menjadi seorang sXe tidak dapat diambil hanya dengan tiba-tiba bangun tidur dan memutuskan untuk menjadi seorang sXe. Hal ini disebabkan jika seseorang sudah memutuskan untuk menjadi seorang sXe maka ia telah memutuskan selamanya ia tidak akan melakukan pantangan-pantangan menenggak alkohol, merokok ataupun mengkonsumsi obat-obatan. Sebab para sXe ini sama sekali tidak menganggap filosofi mereka sebagai lelucon ataupun trend belaka, namun menganggap bahwa sXe adalah jalan hidup yang apabila sudah masuk ke jalan itu tidak ada lagi tempat untuk berbalik. Tidak ada kesempatan kedua bagi seorang yang sudah menjadi sXe lalu memutuskan untuk berhenti. Sekali ia berhenti, maka jalan sXe sudah tertutup untuknya. Karena itulah, suatu hal yang umum bahwa para sXe ini mempunyai tato “X” besar atau tato namanya yang diapit oleh huruf “X” (contoh: XbudiX) yang menunjukkan bahwa sXe ini seumur hidup, sama seperti tato yang ia punya.

Walaupun sekilas gaya hidup ini menyuarakan hal-hal yang bisa dibilang positif, banyak juga yang membawa sXe ini ke tingkat yang lebih ekstrim yaitu pertengkaran dengan komunitas Punk yang tidak menganut Straight Edge. Mereka akan memicu pertengakaran dengan membuang gelas-gelas minuman keras yang dipegang oleh non-sXe. Perbuatan ini walaupun mengatasnamakan sXe, sama sekali tidak diakui oleh komunitas sXe yang lebih besar sebab mereka beranggapan bahwa sXe tidak mengajari adanya kekerasan dalam prakteknya ataupun pemaksaan kehendak dalam penyebaran pergerakan ini.

Mungkin banyak yang akan bertanya, apa perbedaan antara seorang sXe dengan seseorang yang tidak menenggak alkohol dan tidak memakai obat-obatan terlarang biasa. Perbedaan tersebut terdapat pada kata Edge di Straight Edge. Jika hanya orang biasa yang menjalani hidup biasa menolak alkohol dan obat-obatan maka ia hanya akan disebut seorang Straight. Sementara seorang yang berkecimpung dan hidup didalam komunitas minoritas yang diselimuti oleh asap, bubuk putih, dan alkohol maka ia adalah seorang Straight Edge. Karena itu dapat dikatakan bahwa inti dari filosofi sXe ini adalah bagaimana kita bisa stand out di satu komunitas tanpa mengikuti trend ataupun mengorbankan diri kita untuk dapat settle di komunitas tersebut.

Friday, April 4, 2008

youth is trash. YOU WISH!

I think beside all of the big issues that facing our world today, there is a less and probably a lot smaller issues that have been occurred in ouy community and probably other communities as well. this issue we’re facing is the issue about how young people get less attention and less chance to say anything in public. it is like the whole world is revolving just around older and “wiser" people and we never had the chance to shine or to prove our worth to the community. I know it is probably less important than environmental issues, peacekeeping issues or even pornographic issues in some subjective vision, but this problem is crucial for the future of our community and our world. because if this keeps going on, the regeneration for the future leaders of our world will not go producing another kind of Soekarno, Sutan Sjahrir, Sun Yat Sen or maybe even another Margaret Thatcher. the future tense of our world are lies in the hands of the youth, not some old war-loving, corruption-obsess president or government. and for this purpose we will need all the knowledge about leadership to help us reach our goal of setting the better future through the fundamental level of society. this fundamental level includes educating the youth so that in the real world we wont be just a mocking for the older people. this is important because in many cases there are a lot of this young leader don’t know what they were doing and because of that the older people just never appreciate us. It is a big job we certainly realize, but it is also a basic job to educate others for the better future. and when it's big and it's basic, that's where I think the start line begins.